Lamaranmu KuTolak

>> Minggu, 23 Agustus 2009

Lamaranmu Kutolak!

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.
Melalui ta'aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk
melanjutkannya menuju khitbah (lamaran).

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.
Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru
pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang
sekarang amatlah berbeda.

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka
menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang
lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk 'merebut'
sang perempuan muda, dari sisinya.

"Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?" tanya sang setengah baya.
"Iya, Pak," jawab sang muda.

"Engkau telah mengenalnya dalam-dalam?" tanya sang setengah baya
sambil menunjuk si perempuan.
"Ya Pak, sangat mengenalnya," jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
"Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak
bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model
seperti itu!" balas sang setengah baya.
Si pemuda tergagap, "Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal
sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu."
"Lamaranmu kutolak. Itu serasa 'membeli kucing dalam karung' kan, aku
takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.
Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?" balas sang setengah baya,
keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang
lelaki muda. Bisiknya, "Ayah, dia dulu aktivis lho."

"Kamu dulu aktivis ya?" tanya sang setengah baya.
"Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di
Kampus," jawab sang muda, percaya diri.
"Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama
istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo
rumahku ini kan?"
"Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak
yang nggak datang kalau saya suruh berangkat."
"Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok
mau ngatur keluargamu?"

Sang perempuan membisik lagi, membantu, "Ayah, dia pinter lho."
"Kamu lulusan mana?"
"Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus
terbaik di Indonesia lho Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM
ini tho? Menganggap saya bodoh kan?"
"Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya
saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak."
"Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik
anak-anakmu kelak?"

Bisikan itu datang lagi, "Ayah dia sudah bekerja lho."
"Jadi kamu sudah bekerja?"
"Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera
jualan produk saya Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu
nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu."
"Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak
terlalu laku."
"Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu,
kalau kerja saja nggak becus begitu?"

Bisikan kembali, "Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya."
"Rencananya maharmu apa?"
"Seperangkat alat shalat Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf."
"Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan
uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku."

Bisikan, "Dia jago IT lho Pak"
"Kamu bisa apa itu, internet?"
"Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak
saya nge-net."
"Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan
anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata."
"Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak."
"Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,
Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu."

Bisikan, "Tapi Ayah..."
"Kamu kesini tadi naik apa?"
"Mobil Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya
Riya'. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik."
"Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir"
"Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini
namanya payah. Memangnya anakku supir?"

Bisikan, "Ayahh.."
"Kamu merasa ganteng ya?"
"Nggak Pak. Biasa saja kok"
"Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang
cantik ini."
"Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!"

Sang perempuan kini berkaca-kaca, "Ayah, tak bisakah engkau tanyakan
soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?"
Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang
muda yang sudah menyerah pasrah.
"Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Hadits?"
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, "Pak, dari tiga puluh
juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.
Hadits-pun cuma dari Arba'in yang terpendek pula."
Sang setengah baya tersenyum, "Lamaranmu kuterima anak muda. Itu
cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja
pun, aku masih tertatih."
Mata sang muda ikut berkaca-kaca.

Source : Anynomous (From My Fren Via Email)

Read more...

Wanita Memang Sulit Dimengerti :)

>> Jumat, 19 Juni 2009








Read more...

Password Key

>> Rabu, 27 Mei 2009

video

Read more...

Laptop

video

Read more...

Facebook Haram?

Ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa Facebook diharamkan:

1. Facebook bisa membuat kita mengabaikan anak.




















2. Facebook membuat kita tidak ingin meninggalkan komputer kita.




3. Facebook membuat kita tidak memperhatikan keadaan sekeliling kita.



4. Keranjingan Facebook bisa membuat tubuh kita kurus, karena lupa makan.




5. Keranjingan Facebook juga bisa membuat kita menjadi gemuk, karena gak enak buka facebook tanpa ngemil.



6. Keranjingan Facebook tidak mengenal usia, sampe balitapun ikutan jadi Facebooker.



7. Serius amat bacanya..hahhaha

Sumber : Anynomous

Read more...

"Cukup Itu Berapa?"

>> Jumat, 27 Maret 2009

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya dan membuat si petani menjadi kaya raya berapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani telah mengucapkan kata "cukup".

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya, diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan disana. Namun kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup?Seringkali para pegawai merasa gajinya belum bisa dianggap cukup bila dibandingkan dengan kerja-kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih di bawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang….

Kapankah kita bisa berkata cukup? Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya....Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.."Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg atau berpuas diri.

Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Janganlah membiarkan kerakusan manusia membuat kita menjadi sulit untuk berkata cukup.Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia. Karena itu.....belajarlah untuk berkata "cukup"

Read more...

Membantu Itu Membahagiakan

>> Minggu, 15 Februari 2009

Oprah angel’s network $1000 holiday to giveaway – alot more happier

Oprah pernah melakukan sebuah eksperimen dengan para pemirsanya. Dia meminta permisanya tersebut untuk menggunakan uang sebesar $1000 yang seharusnya merekaakan gunakan untuk liburan, untuk digunakan untuk meringankan beban orang lain, apapun itu.

Bisa untuk menyekolahkan anak yang tidak mampu, membelikan obat, memberi makan, apapun dan dilakukan selama masa liburan tersebut.

Setelah masa liburan berakhir, Oprah mengundang mereka untuk tampil pada acaranya dan menceritakan apa pengalaman yang mereka peroleh pada masa liburannya.

Ternyata semua mengatakan bahwa mereka belum pernah merasa lebih bahagia, lebih bermakna, dan apa yang diperloleh dengan $1000 yang mereka berikan pada orang lain itu jauh melebihi kebahagiaan yang mungkin akan diperoleh apabila mereka habisakan untuk berlibur.

Hal senada muncul dari hasil penelitian yang dilakukan di Universitas Oregon. Peneliti dari Universitas Oregan baru-baru ini menggunakan mesin fMRI untuk mempelajari aktivitas otak laki-laki dan perempuan dan memonitor perubahan emosi dan pola dalam berpikir.
Dalam eksperimen ini, peneliti memberikan seorang wanita uang sebanyak 100 dolar, dan seperti yang diduga, pusat kebahagiaan di otak menunjukkan peningkatan aktivitas.

Lalu
di bagian lain eksperimen ini, wanita tsb diberikan lagi uang dalam jumlah yang sama, namun kali ini wanita tsb diberikan kesempatan untuk mendonasikan uangnya.
Hasilnya, terjadi peningkatan aktivitas otak yang jauh lebih besar dibanding ketika wanita tsb menggunakan uang itu untuk dirinya sendiri.

Luar biasanya lagi, ketika penelitian ini dikembangkan dengan cara mengukur aktivitas otak orang yg melihat orang lain menerima kebaikan, ternyata aktivitas yang otak yang sama juga muncul. Artinya, kita pun bisa merasa turut bahagia ketika kita melihat orang lain menerima kebaikan dari orang lain (bukan dari kita).

sumber : Komunitas Sukses Mulia

Read more...

Back to TOP